Penyaluran Kredit Mengandalkan Sektor Perdagangan Kredit Part II

Menurut Bhima, jika bahan bakunya dari dalam negeri, ada keuntungan bagi pelaku usaha untuk menjual produk ekspor di tengah pelemahan rupiah. Keuntungan batubara, misalnya, menjadi dobel karena nilai tukar dollar AS terhadap rupiah belakangan ini meningkat. Tren penguatan dollar AS terhadap rupiah dimanfaatkan pelaku usaha untuk menggenjot kegiatan ekspor. Karena itu, di luar komoditas pertambangan, ada beberapa komoditas ekspor yang volumenya tumbuh. Di antaranya, produk barang rajutan termasuk tekstil, farmasi, serta pulp and paper.

Untuk menggenjot kegiatan ekspor, pelaku usaha mencari kredit perdagangan ke bank. Itu sebabnya, merujuk data OJK, jumlah pembiayaan ke sektor perdagangan besar dan eceran merupakan yang terbesar dari 18 sektor lapangan usaha penerima kredit perbankan, diikuti oleh kredit ke industri pengolahan dan sektor pertanian. Jika dilihat dari enam jenis bank penyalur kredit perdagangan, bank yang berstatus badan usaha milik negara (BUMN) masih mendominasi perebutan kue bisnis trade ?nance. Dari total kredit perdagangan yang disalurkan perbankan sampai Juli 2018, bank BUMN mengempit porsi 45,53% (lihat infogra?s). Hal ini bisa dimaklumi lantaran bank pelat merah memiliki jaringan kantor yang luas hingga ke mancanegara. Sebut saja misalnya, BNI. Melalui kantor cabangnya di Singapura, kinerja trade financing BNI untuk mendorong ekspor Indonesia memiliki total volume transaksi sebesar US$ 550 juta atau setara Rp 8 triliun.

Sampai akhir tahun ini, BNI Singapura berencana akan menambah portofolio fasilitas trade ?nancing. Untuk memuluskan rencana itu, bank dengan kode saham BBNI ini menggandeng sebelas perusahaan lokal Singapura untuk memperkuat hubungan bisnis. Sasaran utamanya, peningkatan ekspor dari pelaku usaha Indonesia ke pasar dunia. Menurut Rico, kerjasama tersebut diharapkan dapat mempererat hubungan bisnis ke depan, sehingga akan mendukung strategi pertumbuhan kredit perdagangan. Pasalnya, 11 perusahaan lokal Singapura yang digandeng BNI itu memiliki fokus pembelian produk asal Indonesia dan memasarkannya ke pasar internasional.

NPL Masih Tinggi

Yang perlu jadi perhatian, meskipun pembiayaan ke sektor perdagangan besar dan eceran merupakan yang terbesardicatat, kredit bermasalah di sektor ini juga yang terbesar dibandingkan sektor lainnya. Data SPI OJK mencatat, kredit seret atawa NPL di sektor perdagangan besar dan eceran pada Juli 2018 mencapai Rp 37,73 triliun atau 4,07% dari total kredit yang dikucurkan senilai Rp 926,18 triliun (lihat infografis). Lantas, apa strategi bank untuk mengantisipasi lonjakan NPL kredit perdagangan?

Presiden Direktur PT Bank Mayapada Internasional Tbk (Mayapada) Hariyono Tjahjarijadi, mengatakan, pihaknya selalu mengantisipasi NPL dengan menjalankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit. Misalnya, selalu selektif dalam menyalurkan pembiayaan kepada para debitur. Selain itu, Mayapada selalu berkomunikasi dan membantu debitur mencarikan solusi jika kesulitan membayar angsuran kredit. Secara persentase, papar Hariyono, porsi kredit perdagangan Bank Mayapada sekitar 55% dari total kredit yang sebesar Rp 60,85 triliun per Juni 2018. Kredit perdagangan sampai semester I-2018 tumbuh 12% secara yoy, karena ada permintaan dari nasabah yang bisa diartikan omzet usaha mereka juga sedang tumbuh, kata dia.

Langkah BRI dalam menekan NPL juga hampir serupa Bank Mayapada. Menurut Supari, untuk menjaga kualitas kredit perdagangan, pihaknya selalu intensif melakukan monitoring ke nasabah, khususnya terkait cash ?ow atau arus kas usahanya. Contohnya, jika debitur mengajukan pinjaman dalam bentuk valas, BRI hanya menyalurkan untuk debitur berpenghasilan valas. Jurus lainnya, BRI memfokuskan penyaluran kredit kepada sektor usaha yang memiliki NPL rendah, melakukan restrukturisasi bila diperlukan, dan peningkatan kompetensi tenaga pemasaran untuk memberikan pelayanan yang lebih cepat dan optimal. Dengan strategi tersebut, kualitas kredit perdagangan BRI terjaga dengan angka NPL 2,98% per Juli 2018.

Hingga akhir tahun ini, kami menargetkan pertumbuhan kredit perdagangan bisa berada di kisaran 12%-14%, tutur Supari. Sementara itu, BNI akan menekan NPL kredit perdagangan dengan selektif memilih debitur top player di sektor ini. Terkait dengan pelemahan nilai rupiah, BNI hanya akan melakukan ekspansi kredit perdagangan dengan fokus pada debitur yang memiliki orientasi pasar ekspor. Di sisi lain, BNI juga bakal memperbanyak pelatihan, pendampingan, pengembangan produk, dan strategi penentuan harga ke nasabah korporasi dan usaha kecil menengah (UKM) untuk meningkatkan potensi ekspor.

Harapannya, nasabah segmen UKM akan ikut mendorong kredit perdagangan BNI. Rico mebeberkan, NPL kredit perdagangan BNI hanya sebesar 2,7% per Juni 2018, mengempis dibandingkan posisi yang sama tahun lalu yang sebesar 3,3%. Penurunan NPL kredit perdagangan diklaim merupakan hasil penyempurnaan dari penyaluran kredit yang dilakukan oleh perusahaan. Ini mulai dari pemilihan debitur yang sangat selektif sampai dengan proses restrukturisasi atau penyelesaian masalah jika dibutuhkan, ujarnya. Untuk meningkatkan porsi kredit perdagangan, lanjut Rico, BNI berusaha meningkatkan kenyamanan terhadap seluruh debitur. BNI juga meningkatkan fee based income atau pendapatan nonbunga dari sektor ini. Sampai semester I-2018, fee based BNI dari trade finance mencapai Rp 538 miliar atau naik 8,7% yoy. Target pertumbuhan penyaluran kredit perdagangan BNI hingga akhir tahun ini 12%, kata Rico.